ASIAWORLDVIEW – Non-fungible Token (NFT) masih memiliki hambatan untuk dipercaya banyak orang. Hingga kini, masih banyak beranggapan investasi aset digital berbahaya hingga scam. Perusahaan juga harus membuat strategi demi loyalitas merek dalam ekosistem Web3 yang berkembang.
Dalam acara Benzinga Future of Digital Assets baru-baru ini, Alex Salnikov, salah satu pendiri dan kepala strategi Rarible, bergabung dalam diskusi panel yang dipimpin oleh Ian Horne, kepala konten Money20/20 Amsterdam. Percakapan berfokus pada tantangan dan peluang mengintegrasikan token non-fungible Token (NFT) ke dalam strategi loyalitas merek dalam ekosistem Web3 yang berkembang.
Salnikov merefleksikan tantangan pasar NFT. Ia membahas bagaimana praktik spekulatif pada tahun 2021 menciptakan skeptisisme terhadap teknologi.
“NFT menjadi kata yang tidak senonoh di banyak komunitas saat ini,” akunya. Dia menjelaskan, pasar telah dibanjiri oleh skema keuntungan jangka pendek yang memicu bubble. Salnikov membandingkan situasi ini dengan kegemaran baru-baru ini terhadap koin meme, dan memperkirakan bahwa pola serupa dapat menimbulkan minat sementara namun menjadi tantangan jangka panjang bagi industri ini.
Baca Juga: Givenchy Kembali Luncurkan Proyek NFT Edisi Terbatas
Diskusi ini ini memberikan landasan untuk mengeksplorasi bagaimana NFT dapat dimanfaatkan secara lebih efektif dan bertanggung jawab. Hal ini untuk menumbuhkan kepercayaan merek dan loyalitas konsumen.
Salnikov menguraikan bagaimana NFT dapat mengubah keterlibatan pelanggan dengan menjadikan konsumen sebagai pemangku kepentingan dalam kesuksesan suatu merek. Dia mengutip contoh seperti Pudgy Penguins, yang memungkinkan pemegang token mendapatkan keuntungan dari aliran pendapatan merek.
“Jika saya memiliki Pudgy Penguin, saya memperkirakan harganya akan naik hanya karena akan ada aliran nilai kembali ke sana,” kata Salnikov.
