ASIAWORLDVIEW – Potensi pasar Kripto di Indonesia masih sangat minim. Perusahaan Amerika Serikat saat ini mendominasi adopsi kripto, yang secara kolektif memegang 683.332 Bitcoin atau mewakili 3,3 persen dari total pasokan Bitcoin pada Agustus lalu.
Selain itu, Microstrategy dan Tether turut mendominasi, secara kolektif menguasai 85% pembelian Bitcoin pada kuartal pertama tahun ini. Bahkan, River juga memproyeksi akan ada 10% perusahaan AS yang mengonversi 1,5% dari cadangan kas mereka ke Bitcoin.
Hal itu diungkapkan Robby selaku Chief Compliance Officer (CCO) Reku sekaligus Ketua Umum Aspakrindo-ABI. Namun Indonesia mencetak sejarah sebagai negara pertama di dunia yang mengoperasikan bursa kripto.
Baca Juga: Masa Depan Industri Kripto Indonesia di Era Prabowo-Gibran
“Indonesia juga sudah mencetak sejarah sebagai negara pertama di dunia yang mengoperasikan bursa kripto. Selain itu, produk derivatif aset kripto juga sudah disahkan. Sehingga regulasi ini semakin mendewasakan industri kripto di Indonesia yang merangkul lebih banyak stakeholders, bukan hanya investor individual namun juga institusi,” ia mengatakan.
Kendati proporsi kepemilikan Bitcoin di ranah institusi bisnis masih relatif minim. Namun tren peningkatan di segmen ini menunjukkan optimisme para pelaku bisnis terhadap aset kripto di Indonesia.
“Ini menunjukkan bahwa aset kripto semakin bersaing dengan instrumen investasi lain yang hadir jauh sebelum aset kripto seperti saham dan obligasi,” pungkasnya.
