ASIAWORLDVIEW – Bank Indonesia (BI) memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,50% alam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 21 Mei 2025. Langkah ini diambil untuk menjaga inflasi tetap terkendali dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang tengah melambat.
Pemangkasan suku bunga ini menjadi bagian dari tren pelonggaran moneter yang telah berlangsung sejak awal tahun, setelah sebelumnya BI mempertahankan suku bunga di 5,75% selama beberapa bulan. Para ekonom melihat keputusan ini sebagai strategi untuk meningkatkan konsumsi dan investasi, terutama di tengah kondisi ekonomi global yang mulai stabil.
Citi tengah mereview melihat performance di kualrtal I dan II. Kemudian, akan memberikan revisi ke target, termasuk OJK.
Citi mencatatkan laba bersih sebesar Rp 645 miliar pada triwulan pertama 2025, didukung oleh peningkatan Pendapatan Bunga Bersih (Net Interest Income/NII) sebesar 11% secara year-on-year (YoY). Selain itu, rasio dana murah (CASA) tetap stabil di 74%, yang membantu mempertahankan profitabilitas bank.
“BI memangkas suku bunga, menjadi tren tahun ini. Citi tengah mereview melihat performance di kualrtal I dan II, baru akan memberikan revisi ke target, termasuk OJK,” kata CEO Citi Indonesia Batara Sianturi, Senin (26/5/2-25) dalam pemaparan Prospek Ekonomi ke depan beserta Kinerja Keuangan Citi Indonesia Triwulan I-2025.
Baca Juga: BI Turunkan Suku Bunga Jadi 5,75%
Namun, ada kekhawatiran bahwa pemangkasan suku bunga lebih cepat dibandingkan The Fed dapat menyebabkan tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Meskipun rupiah sempat menguat ke bawah Rp16.500 per dolar AS. Volatilitas pasar masih menjadi perhatian utama bagi BI dalam menjaga stabilitas ekonomi.
Citi Indonesia memiliki fokus pada sektor-sektor pertumbuhan seperti manufaktur, pertambangan, dan perdagangan. Selain itu, berkomitmen terhadap diversity dan inklusi dalam operasionalnya.
Citi Indonesia tetap menunjukkan kinerja yang kuat berkat jaringan internasionalnya yang menjadi keunggulan kompetitif. Dengan strategi ini, Citi berupaya memperkuat posisinya sebagai mitra utama bagi berbagai sektor industri yang berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi Indonesia.
“Memang ada beberapa industry yang tengah melambat, tapi ada juga yang bertahan hingga tetap kuat. Citi mendukung industri manufaktur dan perdagangan dengan pembiayaan ekspansi bisnis serta solusi perbankan digital untuk meningkatkan efisiensi operasional. Selain itu, aktif dalam pembiayaan proyek-proyek pertambangan, termasuk investasi dalam teknologi ramah lingkungan untuk meningkatkan keberlanjutan industri ini,” ia menambahkan.
