ASIAWORLDVIEW – Pemerintah baru saja meluncurkan B50 (campuran 50% biodiesel), disebut sebagai strategi untuk menghemat Bahan Bakar Minyak (BBM) dan energi hijau. Namun segelintir masyarakat kontra terhadap kebijakan tersebut.
Netizen, rata-rata paham mekanik dan pemilik kendaraan diesel, mengeluhkan kondisi tersebut di sosial media. Apalagi yang lahir di era 2000-an ke bawah, kebijakan ini seperti pedang bermata dua yang mengancam ruang bakar. Sumber kekhawatiran utama bukanlah isu politis, melainkan sifat kimiawi biodiesel yang jauh lebih kental dibanding solar murni.
Mengutip dari berbagai sumber, Jumat (10/7/2026), iskositas tinggi ini membuat sistem injeksi mekanis pada mesin lawas kesulitan mengabutkan bahan bakar secara optimal. Akibatnya, pembakaran di ruang silinder tidak sempurna, tenaga yang dihasilkan terasa “lemes” dan ngos-ngosan.
Sementara konsumsi bahan bakar justru melonjak. Nilai kalor B50 juga lebih rendah, sehingga secara fisika, mesin harus bekerja ekstra keras untuk menghasilkan tenaga yang sama, yang otomatis berimbas pada kantong pemilik kendaraan.
Baca Juga: Program B50 Selamatkan Devisa Rp170 Triliun, Indonesia Perkuat Transisi Energi Bersih
Dari ruang mesin ke sistem bahan bakar, ancaman yang lebih serius mengintai pada komponen vital seperti injector dan filter solar. Kandungan B50 berpotensi meninggalkan endapan atau deposit yang sifatnya lengket, yang seiring waktu bisa menyumbat lubang semprot injektor dan mempercepat keausan pump.
Biaya overhaul sistem Common Rail atau pump injektor tua bukanlah taksiran murah; bisa tembus puluhan juta rupiah. Belum lagi sifat higroskopis biodiesel yang sangat mudah menyerap uap air. Jika rantai distribusi di tangki penyimpanan darat atau kapal tanker tidak memenuhi standar kebersihan ketat, air yang terperangkap akan memicu pertumbuhan mikroba dan pembentukan sludge (lumpur) yang mempercepat degradasi kualitas fuel.
Mereka menghadapi ancaman penurunan performa drastis yang bisa membuat mobil kesayangan kehilangan momen torsi terbaiknya. Jika kasus kerusakan merambat luas, kepercayaan publik terhadap program hijau pemerintah berpotensi runtuh. Padahal, kesuksesan transisi energi sangat bergantung pada penerimaan masyarakat.
Risiko ekonomi pun tak terhindarkan: daya beli tergerus oleh biaya perbaikan yang membengkak, sementara transisi energi yang diharapkan malah terhambat oleh gelombang protes dari para pengguna jalan. Bagi pengguna diesel lawas, tampaknya menyiapkan dana darurat untuk perawatan ekstra adalah langkah paling bijak sebelum B50 benar-benar mengalir deras ke SPBU.
Di daerah dataran tinggi dengan suhu dingin, masalah cold flow juga siap menjadi mimpi buruk saat pagi hari. B50 bisa mengental bahkan membeku, membuat mesin susah start dan suplai bahan bakar tersendat.

