Jakarta Berdiri Sejak Abad ke-16, Dari Pelabuhan Sunda Kelapa ke Kota Global

Kawasan ikonik di Jakarta, Patung Selamat datang di BUndaran Hotel Indonesia.(Unsplash.com).

ASIAWORLDVIEW – Jakarta merayakan hari ulang tahunnya pada 22 Juni, menjadi momentum penting bagi masyarakat. Peringatan tersebut menegaskan identitas kota ini sebagai pusat pemerintahan, ekonomi, dan budaya Indonesia.

Setiap tahun, perayaan ulang tahun Jakarta menjadi ajang nostalgia sejarah sejak berdirinya kota pada abad ke-16. Tal lupa, sebagai simbol perkembangan modern yang terus berlangsung.

Pemerintah daerah bersama masyarakat menggelar berbagai acara yang mencerminkan identitas kota sebagai pusat kebudayaan sekaligus modernitas. Salah satu tradisi yang paling dikenal adalah Festival Jakarta atau Pekan Raya Jakarta (PRJ), yang menghadirkan pameran perdagangan, hiburan musik, kuliner khas Betawi, hingga pertunjukan seni tradisional seperti lenong dan tari topeng. Selain itu, terdapat pula kegiatan ritual budaya seperti upacara di Monas dan ziarah ke situs bersejarah, yang menjadi simbol penghormatan terhadap perjalanan panjang kota sejak masa Jayakarta.

Asia World View mengutip dari berbagai sumber, Sabtu (20/6/2026), perjalanan panjang Jakarta selama lebih dari lima abad, mencerminkan transformasi dari sebuah bandar niaga kecil di pesisir utara Jawa. Kemudian menjadi megalopolis global yang padat.

Baca Juga: Hari Raya Blok M, Festival Urban Komunitas dan Kreativitas Anak Muda Jakarta

Sudah ada sejak abad ke-4 sebagai bagian dari kerajaan Tarumanagara, namun tonggak sejarah modernnya berawal pada abad ke-13 dengan berdirinya pelabuhan Sunda Kelapa, menjadi pintu masuk utama Kerajaan Sunda Pajajaran. Wilayah ini ramai dengan perdagangan lada dan rempah-rempah dari pedalaman.

Kawasan Kota Tua, Jakarta, menyimpan sejarah dari bangunan-bangunan lama yang masih berdiri tegak.(Unsplash.com)
Kawasan Kota Tua, Jakarta, menyimpan sejarah dari bangunan-bangunan lama yang masih berdiri tegak.(Unsplash.com)

Pada 1522, Portugis menandatangani perjanjian dengan Pajajaran untuk membangun benteng dan mengamankan monopoli rempah, tetapi sebelum benar-benar bercokol, pada 22 Juni 1527 pasukan gabungan Kesultanan Demak-Cirebon yang dipimpin Fatahillah menyerbu dan mengusir Portugis, lalu mengganti nama kota menjadi Jayakarta, artinya “kemenangan sempurna”, sebuah peristiwa yang dikenang sebagai hari lahir Jakarta.

Pada 1619, pasukan VOC di bawah Jan Pieterszoon Coen membumihanguskan Jayakarta dan di atas puing-puingnya mendirikan kota baru bertembok yang dirancang meniru kota-kota Belanda, lengkap dengan jaringan kanal, benteng Kasteel, dan balai kota Stadhuis (kini Museum Sejarah Jakarta), yang mereka beri nama Batavia.

Selama dua abad berikutnya, Batavia tumbuh menjadi pusat administrasi dan perdagangan imperium kolonial Belanda di Asia, menjadi peleburan etnis, Belanda, Tionghoa, Melayu, Arab, India, dan budak dari berbagai daerah. Selain itu, dijuluki “kuburan orang Eropa” karena wabah malaria dan kolera akibat kanal-kanal yang kotor dan tergenang.

Menjelang akhir abad ke-18, kota bertembok mulai ditinggalkan, dan pusat kegiatan bergeser ke selatan menuju wilayah Weltevreden yang lebih sejuk dan sehat, yang kini menjadi kawasan Lapangan Merdeka dan pusat pemerintahan kolonial. Pendudukan Jepang pada 1942–1945 mengembalikan nama Jakarta sebagai strategi propaganda untuk merangkul nasionalisme pribumi.

Gereja Katedral, Jakarta
Gereja Katedral, Jakarta

Setelah Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, Jakarta resmi menjadi ibu kota Republik Indonesia. Era Sukarno membawa semangat revolusi fisik dan arsitektural: ia meratakan kawasan Menteng lama dan membangun proyek mercusuar seperti Monumen Nasional (Monas), Masjid Istiqlal, Kompleks Olahraga Gelora Bung Karno, serta jalan-jalan protokol lebar seperti Thamrin dan Sudirman yang memberikan wajah modern dan nasionalistik bagi Jakarta.

Masa Orde Baru di bawah Soeharto memacu pertumbuhan ekonomi pesat. Gedung-gedung pencakar langit mulai menjamur, pusat-pusat perbelanjaan dibangun, kawasan bisnis seperti Segitiga Emas dan kemudian SCBD terbentuk. Sementara urbanisasi besar-besaran menggelembungkan populasi dan memicu persoalan kemacetan, banjir, permukiman kumuh, dan ketimpangan sosial yang sulit terurai.

Pemerintah Indonesia pada 2022 mengesahkan pemindahan ibu kota negara ke Ibu Kota Nusantara di Kalimantan Timur, meskipun Jakarta tetap direncanakan menjadi pusat ekonomi dan bisnis. Kini, sebagai Daerah Khusus Jakarta, kota ini dihuni lebih dari 10 juta jiwa dalam wilayah administratif dan lebih dari 30 juta jiwa di megapolitan Jabodetabek, menyimpan warisan berlapis dari kanal Batavia dan kampung-kampung tua.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *