ASIAWORLDVIEW – Skin barrier penting karena berfungsi sebagai lapisan pelindung utama kulit terhadap faktor eksternal seperti polusi, bakteri, dan zat kimia berbahaya. Lapisan ini juga menjaga kelembapan alami kulit dengan mencegah kehilangan air berlebihan, sehingga kulit tetap terhidrasi, kenyal, dan sehat.
Ketika skin barrier rusak, kulit menjadi lebih rentan terhadap iritasi, peradangan, dan masalah seperti jerawat atau eksim. Selain itu, skin barrier yang sehat membantu menjaga keseimbangan mikrobioma kulit, yaitu kumpulan bakteri baik yang berperan dalam pertahanan alami tubuh.
“Pada dasarnya, skin barrier adalah lapisan terluar kulit yang bertindak sebagai ‘benteng pertahanan’ untuk menjaga kelembapan kulit sekaligus melindunginya dari berbagai pemicu eksternal. Karena indikasi awal kerusakan skin barrier pada kulit tubuh masih sering diabaikan, hal ini kemudian bermanifestasi menjadi berbagai masalah yang berbeda,” sebut Dr. dr. Windy Keumala Budianti, SpDVE, Subsp.DAI, FINSDV, FAADV, Kepala Departemen Dermatologi & Venereologi FKUI-RSCM dan Founder Immuno Derma Clinic.
Indikasi awal kerusakan skin barrier pada kulit tubuh seringkali sangat samar dan mudah diabaikan, terutama oleh perempuan profesional yang padat aktivitas, karena manifestasinya dimulai dari sensasi subyektif seperti kulit terasa sedikit kencang atau ketarik setelah mandi, gatal ringan yang datang dan pergi, atau munculnya bercak-bercak kering bersisik halus yang nyaris tak terlihat di area betis, siku, atau lengan atas.
Baca Juga: Skin Barrier Rentan, Ini Perawatan Kulit Berbasis Dermatologi
Tahap ini sering dianggap sekadar dehidrasi biasa sehingga hanya diatasi dengan pelembap seadanya, padahal secara mikroskopis lapisan pelindung kulit yang tersusun dari sel-sel korneosit dan lipid bilayer mulai mengalami keretakan, memungkinkan air keluar berlebihan (transepidermal water loss) dan iritan dari lingkungan masuk dengan leluasa.
Jika diabaikan terus, kerusakan ini bermanifestasi menjadi masalah yang berbeda-beda pada setiap individu sesuai kerentanan genetik dan gaya hidup. Apalagi jika sering terpapar pendingin ruangan berjam-jam, kulit akan berubah menjadi kering kemerahan yang menetap disertai sensasi perih saat terkena air atau gesekan pakaian
Pada beberapa kasus, ada yang mengalami regenerasi sel melambat dan akumulasi sel kulit mati menyebabkan kulit tampak kusam, abu-abu, dan kehilangan cahaya alami; sementara pada mereka yang rentan terhadap sumbatan folikel atau sering memakai pakaian ketat non-breathable, tekstur kulit berubah kasar dan dipenuhi benjolan kecil menyerupai jerawat namun sebenarnya adalah keratosis pilaris atau folikulitis akibat barrier yang bocor dan kolonisasi bakteri.
Diperlukan edukasi dan inovasi berbasis klinis yang membantu para perempuan profesional memperbaiki dan meningkatkan fungsi skin barrier tubuh mereka. Alhasil dapat senantiasa merasa nyaman dan percaya diri karena terbebas dari masalah kulit dengan cara yang tepat.
“Tanpa penanganan yang tepat, masalah ini bisa menjadi siklus yang terus berulang. Untuk itu, selain berkonsultasi dengan dermatologist, berbagai masalah yang disebabkan oleh kerusakan fungsi skin barrier kulit tubuh membutuhkan perawatan yang lebih spesifik dan intensif untuk mengatasi dan mencegahnya timbul kembali,” ia menambahkan.
