Rupiah Rp17.833 per USD, Jadi Mata Uang Paling Lemah di Asia

ASIAWORLDVIEW – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) hari ini, Rabu (27/5/2026), kembali menunjukkan pelemahan yang cukup signifikan, bahkan sempat menembus level psikologis Rp17.800 per dolar AS.

Rupiah di pasar spot exchange dibuka merosot 37,50 poin atau sekitar 0,21 persen ke level Rp17.833 per dolar AS. Pelemahan ini berbanding terbalik dengan mayoritas mata uang Asia yang justru menguat, menjadikan rupiah sebagai mata uang dengan pelemahan terdalam di kawasan tersebut pada pagi itu.

Di sisi lain, Indeks Dolar AS (DXY) terpantau sedikit melemah tipis 0,03% ke level 99,136 pada waktu yang sama. Adapun kurs tengah transaksi Bank Indonesia (JISDOR) sehari sebelumnya, pada 26 Mei 2026, tercatat naik ke Rp17.789 per dolar AS dari Rp17.743 per dolar AS pada 25 Mei 2026.

Secara lebih rinci, nilai tukar rupiah di berbagai bank besar nasional pada hari itu adalah sebagai berikut. PT Bank Central Asia Tbk (BCA) mematok harga beli di e-rate sebesar Rp17.730 per dolar AS dan harga jual di e-rate sebesar Rp17.850 per dolar AS. Sementara itu, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk menetapkan harga beli di TT Counter sebesar Rp17.535 per dolar AS dan harga jual di TT Counter sebesar Rp17.835 per dolar AS.

Baca Juga: Rupiah Masih Rapuh di Tengah Tekanan Global, Rp17.655 Per dolar AS

Untuk PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) harga beli di TT Counter adalah Rp17.698 per dolar AS, sedangkan harga jualnya sebesar Rp17.890 per dolar AS. Terakhir, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) mematok special rates dengan harga beli Rp17.725 per dolar AS dan harga jual Rp17.825 per dolar AS. Perbedaan kurs antara bank-bank besar ini penting bagi masyarakat yang akan melakukan transaksi penukaran valuta asing, karena setiap bank memiliki kebijakan spread (selisih kurs jual dan beli) yang berbeda-beda.

Pelemahan rupiah pada hari itu sendiri dipicu oleh kombinasi faktor global dan domestik. Di tingkat global, tensi geopolitik, terutama ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran, menjadi sentimen dominan yang mendorong investor untuk beralih ke aset-aset aman (safe haven) seperti dolar AS. Selain itu, harga minyak mentah dunia yang masih tinggi meskipun sempat mengalami koreksi juga menambah beban bagi negara importir seperti Indonesia.

Sikap “hawkish” atau cenderung menaikkan suku bunga dari Bank Sentral AS (The Fed) serta imbal hasil obligasi AS yang tinggi membuat dolar AS tetap perkasa di pasar global. Dari sisi domestik, tekanan utama berasal dari siklus repatriasi dividen yang biasanya terjadi pada bulan Mei, di mana perusahaan-perusahaan asing yang beroperasi di Indonesia perlu mengonversi keuntungan mereka (dalam rupiah) ke dolar AS untuk dikirim ke luar negeri, sehingga meningkatkan permintaan terhadap dolar.

Kondisi ini diperparah dengan pekan perdagangan yang sangat pendek karena bertepatan dengan libur panjang perayaan Hari Raya Idul Adha. Dengan minimnya volume perdagangan atau likuiditas pasar yang menipis, fluktuasi harga menjadi lebih sensitif dan mudah terdorong ke arah pelemahan.

Untuk merespons tekanan yang berkepanjangan ini, Bank Indonesia (BI) telah mengambil langkah stabilisasi dengan menaikkan suku bunga acuan (BI-Rate) sebesar 50 basis poin (bps) menjadi 5,25 persen pada periode sebelumnya.

Selain itu, BI juga terus melakukan intervensi di pasar valuta asing serta memperkuat kebijakan terkait penempatan Devisa Hasil Ekspor (DHE) di dalam negeri guna menjaga stabilitas nilai tukar dan menambah pasokan dolar di pasar domestik. Meskipun ada upaya-upaya intervensi tersebut, beberapa analis dari lembaga seperti MUFG dan UOB masih memperkirakan bahwa tekanan terhadap rupiah akan terus berlanjut dalam jangka pendek hingga menengah.

Hal ini didorong oleh defisit transaksi berjalan yang melebar, perlambatan pertumbuhan ekonomi domestik, serta ketidakpastian geopolitik global yang masih tinggi. Dengan berbagai tekanan tersebut, fluktuasi nilai tukar rupiah diperkirakan masih akan tinggi dalam waktu dekat, sehingga masyarakat dan pelaku usaha disarankan untuk terus memantau pergerakan pasar secara cermat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *