ASIAWORLDVIEW – Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Indonesia bersama Kantor Riset Makroekonomi ASEAN, China, Jepang, dan Korea (AMRO) menyelenggarakan lokakarya penting di Jakarta. Tema acara tersebut adalah “Menghadapi Ketidakpastian Global: Menjaga Pertumbuhan dan Stabilitas ASEAN” (Navigating Global Uncertainty: Sustaining Growth and Stability in ASEAN), yang bertujuan untuk membahas bagaimana negara-negara ASEAN dan China, Jepang, serta Korea (ASEAN+3) dapat bersama-sama menghadapi risiko eksternal melalui kerja sama yang lebih dalam di tengah kondisi ekonomi global yang baru.
Ketua Dewan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Luhut Binsar Pandjaitan secara khusus menyebutkan bahwa mendorong deregulasi, meningkatkan transparansi tata kelola.
Selain itu, mempercepat transformasi digital pemerintah, serta memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk meningkatkan efisiensi merupakan langkah-langkah domestik kunci dalam memperkuat ketahanan ekonomi.
Tantangan global semakin kompleks, mencakup dimensi ekonomi dan geopolitik. Kawasan ASEAN+3 menghadapi risiko yang signifikan, termasuk dampak lanjutan dari konflik di Timur Tengah, terutama mengingat ketergantungan kita pada energi dan komoditas penting,” ia mengatakan.
Dalam pidato utamanya, Ia juga menekankan pentingnya respons kebijakan yang proaktif terhadap ketidakpastian global.”
Baca Juga: Luhut Sebut Tarif Impor 19%, Langkah Strategis Perkuat Daya Saing Ekonomi
“Meskipun Indonesia tetap berada dalam posisi yang baik, didukung oleh fundamental ekonomi yang kuat dan permintaan domestik yang kokoh, ASEAN+3 harus terus berkembang sebagai mitra strategis dalam menjaga stabilitas regional dan mendorong pertumbuhan berkelanjutan,” ia menjelaskan.
Sementara, Wakil Menteri Keuangan Indonesia, Suahasil Nazara, secara tegas menyatakan bahwa ketidakpastian global, termasuk perang dagang. Selain itu, fragmentasi perdagangan, perubahan iklim, dan disrupsi teknologi kecerdasan buatan, telah menjadi “normal baru” yang harus dihadapi ASEAN. Ia menyebutnya sebagai kondisi ideal yang akan membuat banyak negara iri, dan menekankan bahwa pertumbuhan tersebut menyeimbangkan kualitas dan keterkendalian.
Hal ini menunjukkan bahwa stabilitas tidak datang dengan sendirinya, melainkan harus dibangun secara proaktif oleh setiap negara anggota. Para peserta mencapai kesepakatan bahwa menanggapi tantangan kompleks ini memerlukan respons kebijakan yang lebih fleksibel dan terkoordinasi. Ekonom Utama AMRO, Dong He, juga menekankan bahwa meskipun fondasi ekonomi kawasan ASEAN+3 relatif kokoh, di hadapan ketidakpastian global yang semakin meningkat, kebijakan harus tetap fleksibel dan integrasi regional harus diperdalam.
Para ahli yang hadir sepakat bahwa mendalamkan integrasi regional merupakan jalur kunci untuk membangun ketahanan ekonomi. Strategi konkret meliputi peningkatan perdagangan internal ASEAN, pengurangan hambatan nontarif, serta penguatan kerja sama dalam ekonomi digital dan transisi hijau.
Di bidang keuangan, lokakarya menekankan pentingnya mengoptimalkan kerja sama keuangan regional, seperti menyempurnakan mekanisme multilateralisasi Inisiatif Chiang Mai dan mempromosikan penyelesaian transaksi dalam mata uang lokal, guna membangun jaring pengaman keuangan regional.
Selain itu, para peserta secara khusus menyoroti bahwa ASEAN harus mempertahankan otonomi strategis, menghindari keterikatan pada satu kelompok geopolitik, dan membangun hubungan kerja sama yang luas dengan ekonomi utama global.
Sebagai tuan rumah, Indonesia menunjukkan fondasi ekonomi yang kokoh dalam lokakarya ini. Pada tahun 2025, ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 5,11%, dan memasuki tahun 2026, laju pertumbuhan ekonomi pada kuartal pertama meningkat menjadi 5,61%, sementara tingkat inflasi tetap rendah di angka 2,4%, defisit fiskal terkendali pada 2,9% dari PDB.
Kinerja pertumbuhan tinggi yang diimbangi dengan inflasi rendah ini dianggap oleh pihak berwenang Indonesia sebagai bukti kuat ketahanan negara.
