ASIAWORLDVIEW – Bentuk penipuan di dunia maya makin banyak ragamnya. Menurut Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), terdapat 1.730 kasus penipuan online yang tercatat selama Agustus 2018 hingga Februari 2023. Kerugian akibat penipuan online di Indonesia mencapai Rp 18,7 triliun selama periode 2017-2021. Selain itu, Kominfo juga mencatat ada 405.000 laporan penipuan transaksi online sepanjang tahun 2017-2024. Salah satunya, deepfake.
Adi Rusli, Country Manager, Palo Alto Networks Indonesia menjelaskan soal deepfake suatu bentuk teknologi kecerdasan buatan (AI) yang digunakan untuk memanipulasi atau menghasilkan konten audiovisual. Misalnya, video, gambar, atau rekaman audio, yang tampak seperti asli namun sebenarnya merupakan hasil rekayasa. Itu banyak digunakan dalam scammer.
“Teknologi deepfake menggunakan teknik pembelajaran mesin, khususnya deep learning, untuk membuat konten yang sangat realistis dengan mengganti wajah, suara, atau tindakan orang dengan versi yang telah diubah, sehingga sulit untuk dibedakan dengan media yang asli. Korban penipuan secara daring banyak yang terjebak dengan deepfake,” sebutnya dalam acara virtual Palo Alto bersama media, Selasa (14/1/2025).
Baca Juga: Pakar: Cybersecurity Cegah Ancaman Hacker hingga Kerugian Finansial
Deepfake merupakan ancaman keamanan siber yang signifikan, terutama dalam bentuk serangan rekayasa sosial, di mana penyerang menggunakan teknologi deepfake untuk menyamar sebagai orang yang tepercaya (seperti CEO, eksekutif, atau kolega) untuk menipu korban dan mendapatkan akses ke informasi sensitif atau aset keuangan.
Penyerang dapat menggunakan audio deepfake untuk menirukan suara orang lain. Atau termasuk dalam kasus love scam. Mereka dapat menelepon seorang, terdengar meyakinkan seperti orang yang dipercaya. Kemudian, meminta agar uang ditransfer atau data rahasia diberikan.
“Suara deepfake mungkin meminta seseorang untuk segera mentransfer dana ke rekening tertentu, mengklaim bahwa itu untuk keadaan darurat, atau meminta informasi sensitif, seperti kredensial login atau kode keamanan. Banyak orang yang percaya,” ia menambahkan.
Dengan adanya risiko-risiko tersebut, penting bagi masyarakat untuk berhati-hati saat berhubungan dengan orang di dunia maya. Jangan lupa, selalu memverifikasi informasi dari sumber yang dapat dipercaya.
