ASIAWORLDVIEW – Tether, penerbit stablecoin terbesar di dunia, telah menunjuk firma akuntansi KPMG untuk melakukan audit menyeluruh terhadap cadangan stablecoin USDT menjelang ekspansi ke pasar Amerika Serikat (AS). Perusahaan tersebut juga telah menggandeng PwC untuk membantu mempersiapkan sistem internalnya dalam proses tersebut.
Langkah ini diambil di tengah perkembangan terbaru terkait RUU CLARITY, yang mendapat dukungan bipartisan untuk mengesahkan undang-undang kripto tersebut. Apalagi setelah tercapainya kesepakatan yang cermat mengenai masalah imbal hasil stablecoin
Tether Memilih KPMG untuk Mengaudit USDT demi Meningkatkan Transparansi
Tether menandatangani kontrak dengan firma audit ‘big four’ untuk menyelesaikan audit penuh pertama atas cadangan stablecoin USDT senilai USD185 miliar, seperti dilaporkan CoinGape. Penerbit stablecoin tersebut menyebut langkah ini sebagai “audit perdana terbesar dalam sejarah pasar keuangan.”
Baca Juga: Tether Perkuat Ekosistem Tokenisasi dengan LayerZero
Tether awalnya tidak menyebutkan nama firma tersebut dalam siaran pers resminya, namun FT melaporkan bahwa firma tersebut adalah KPMG pada 27 Maret. Penerbit stablecoin ini berencana untuk membangun kredibilitas menjelang rencana ekspansi ke AS dan potensi penggalangan dana.
Perusahaan ini juga melibatkan firma akuntansi PwC untuk membantu persiapan audit, menurut sumber yang mengetahui masalah ini.
Audit tersebut akan memeriksa aset, liabilitas, cadangan, pengendalian internal, dan sistem pelaporan Tether. Hal ini melampaui pengesahan triwulanan yang selama ini diberikan oleh perusahaan.
Awal bulan ini, Tether menunjuk Simon McWilliams sebagai CFO untuk meningkatkan transparansi dan keterlibatan dengan pihak regulator. Firma Big Four tersebut dipilih melalui proses seleksi yang kompetitif, dengan catatan bahwa Tether sudah beroperasi sesuai standar audit Big Four dan bahwa “audit tersebut akan dilaksanakan,” kata McWilliams.
Perkembangan ini menanggapi pengawasan bertahun-tahun terhadap jaminan USDT. Tether didenda USD41 juta pada tahun 2021 karena klaim menyesatkan mengenai cadangan fiat penuh, dan para kritikus telah lama menyerukan audit yang lebih ketat dan independen.
