ASIAWORLDVIEW – Indonesia dan Malaysia mencatat tingkat dukungan tertinggi dalam survei global terkait gagasan bahwa istri harus patuh kepada suaminya. Menurut studi yang dilakukan oleh Ipsos dan Global Institute for Women’s Leadership di King’s College London, 66% responden di Indonesia dan 60% di Malaysia setuju dengan pernyataan bahwa “seorang istri harus selalu patuh kepada suaminya.
Angka-angka tersebut merupakan persentase tertinggi di antara 29 negara yang termasuk dalam survei. Studi tersebut juga menemukan bahwa 67% responden di Indonesia dan 58% di Malaysia percaya bahwa suami harus memiliki kata akhir dalam keputusan penting rumah tangga, mengutip South China Morning Post.
Para aktivis yang membawa spanduk ikut serta dalam aksi unjuk rasa untuk mendukung hak-hak perempuan, menyerukan kesetaraan gender, dan memprotes diskriminasi gender, pada peringatan Hari Perempuan Internasional di kompleks Monumen Nasional (Monas) di Jakarta, Indonesia, 8 Maret 2022. Foto oleh Reuters
Para aktivis yang membawa spanduk ikut serta dalam aksi unjuk rasa untuk mendukung hak-hak perempuan, menyerukan kesetaraan gender, dan memprotes diskriminasi gender, dalam rangka Hari Perempuan Internasional di luar kompleks Monumen Nasional (Monas) di Jakarta, Indonesia, 8 Maret 2022.
Baca Juga: Riset: Pasangan Pilih Wedding Planner untuk Wujudkan Pernikahan Impian
Diluncurkan pada 5 Maret menjelang Hari Perempuan Internasional, laporan tersebut mensurvei lebih dari 23.000 orang antara Desember 2025 dan Januari 2026 di negara-negara termasuk Singapura, India, AS, Inggris, dan Brasil, dengan fokus pada sikap terhadap peran gender dan norma sosial.
Mohd Faizal Musa, peneliti di Institut Dunia Melayu dan Peradaban di Universitas Nasional Malaysia, mengatakan bahwa ia tidak terlalu terkejut dengan temuan tersebut.
Ia mengatakan bahwa baik Malaysia maupun Indonesia dibentuk oleh nilai-nilai budaya Timur yang telah lama ada dan sering kali terkait erat dengan ajaran Islam.
Melissa Yoong, seorang profesor pembantu bidang sosiolinguistik di Universitas Nottingham Malaysia, mengatakan bahwa meskipun kedua masyarakat masih sangat menekankan otoritas laki-laki tradisional, mereka secara umum lebih mendukung perempuan untuk maju dalam karier dan kepemimpinan.
Ia mengatakan upaya kesetaraan gender di kedua negara tersebut terutama berfokus pada membantu perempuan memperoleh peluang ekonomi yang lebih besar, sementara kurang memperhatikan perubahan pandangan tentang peran laki-laki dan hubungan gender melalui reformasi hukum dan sosial.
Yoong menambahkan bahwa kedua pemerintah telah melakukan upaya aktif dalam beberapa tahun terakhir untuk meningkatkan partisipasi perempuan dalam angkatan kerja.
Pada Oktober 2025, Malaysia meluncurkan program nasional yang bertujuan memberikan keterampilan dan peluang kepada setidaknya 100.000 perempuan hingga tahun 2030 sebagai bagian dari upaya yang lebih luas untuk meningkatkan partisipasi angkatan kerja perempuan. Inisiatif ini juga mendorong praktik-praktik yang lebih ramah terhadap pengasuhan anak.
Sementara itu, Indonesia menargetkan partisipasi perempuan dalam angkatan kerja mencapai 70% pada tahun 2045 dan telah meluncurkan peta jalan yang mencakup layanan penitipan anak yang lebih baik serta perlindungan ibu hamil yang lebih kuat.
