ASIAWORLDVIEW – Transformasi digital di kawasan Asia Tenggara atau ASEAN tidak cukup diukur hanya dari tingkat adopsi teknologi canggih atau besarnya nilai ekonomi digital, melainkan dari sejauh mana manfaat nyata yang dirasakan oleh masyarakat. Keberhasilan digitalisasi harus tercermin dalam peningkatan kualitas hidup, akses yang lebih merata terhadap layanan publik, pendidikan, kesehatan, serta peluang ekonomi yang inklusif.
“Kecepatan digital saat ini tercermin dari pesatnya angka adopsi Artificial Intelligence (AI) dan pertumbuhan nilai ekonomi digital yang semakin signifikan. AI menjadi salah satu teknologi kunci yang mendorong efisiensi, inovasi, dan daya saing di berbagai sektor, mulai dari kesehatan, pendidikan, transportasi, hingga keuangan,” sebut Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid dalam keterangan tertulis yang dikutip, Sabtu (24/1/2026).
Tingginya tingkat adopsi AI menunjukkan bahwa masyarakat dan industri semakin terbuka terhadap pemanfaatan teknologi cerdas untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas layanan. Di sisi lain, nilai ekonomi digital terus meningkat seiring dengan berkembangnya e-commerce, fintech, dan layanan berbasis platform, yang memperluas akses pasar dan menciptakan peluang baru bagi pelaku usaha.
Baca Juga: Modernisasi Interaksi Konsumen Lewat Teknologi AI dan Cloud
Kombinasi antara adopsi AI dan pertumbuhan ekonomi digital ini menandai percepatan transformasi digital yang tidak hanya mengubah pola bisnis, tetapi juga memperkuat fondasi ekonomi modern yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Teknologi bukan sekadar simbol kemajuan, tetapi harus menjadi alat yang memberdayakan masyarakat. Selain itu, memperkecil kesenjangan, dan menciptakan ekosistem yang berkelanjutan.
“Tantangan terbesar bagi Indonesia dan ASEAN adalah memastikan teknologi tersebut dapat diakses secara merata oleh ratusan juta penduduk di kawasan,” ia menambahkan.
Ia menekankan bahwa bonus demografi di kawasan Asia hanya akan menjadi keuntungan nyata jika dibarengi dengan keterampilan. Jika manfaat digitalisasi dapat dirasakan secara luas, maka transformasi digital di ASEAN benar-benar menjadi pendorong utama pembangunan sosial dan ekonomi kawasan. Menurut dia, kecepatan infrastruktur tidak akan bermakna jika tidak dibarengi dengan kecepatan literasi digital, khususnya bagi generasi muda.
“Bonus demografi hanya akan bermanfaat jika mereka terampil. Jadi, kita harus melihat seberapa cepat kita bisa mengedukasi dan meliterasi rakyat kita,” pungkasnya.
