ASIAWORLDVIEW – Penurunan harga Bitcoin hingga kisaran USD60.000 mencerminkan meningkatnya kehati-hatian pasar global, terutama setelah Bank of Japan menaikkan suku bunga, sebuah langkah yang mengguncang fondasi strategi keuangan dunia yang selama bertahun-tahun bergantung pada likuiditas murah dari Jepang.
Kenaikan suku bunga ini memicu penguatan yen dan berpotensi mendorong unwinding carry trade, yaitu praktik meminjam dana murah dalam yen untuk diinvestasikan ke aset berisiko seperti saham teknologi dan kripto. Ketika arus dana tersebut mulai ditarik, tekanan jual pun meningkat, membuat Bitcoin dan aset berisiko lainnya kehilangan momentum, mengutip Asiaworldview mengutip Japan Today, Jumat (25/12/2025).
Kekhawatiran semakin besar karena langkah Bank of Japan dipandang sebagai sinyal berakhirnya era kebijakan moneter super-longgar, yang selama ini menjadi salah satu penopang likuiditas global.
Baca Juga: Bitcoin Naik, Token AI Menguat Setelah Nvidia Gandeng Groq
Pelaku pasar mulai mengantisipasi potensi penurunan lanjutan pada awal 2026, terutama jika pengetatan moneter berlanjut dan pertumbuhan ekonomi global melambat. Alhasil Bitcoin kembali diperlakukan bukan sebagai pelindung nilai, melainkan sebagai aset spekulatif yang sensitif terhadap perubahan kebijakan suku bunga
Analis kripto Ali Martinez mencatat bahwa harga Bitcoin rata-rata turun 60% setelah menembus di bawah rata-rata pergerakan 50 minggu (WMA). Dia membagikan target USD40.000 jika BTC mengulangi pola historisnya.
Sementara, analis populer Cheds Trading mengklaim Bitcoin dapat mencapai titik terendah di USD35.000 hingga USD45.000. Ia mengutip target harga USD10K dari Mike McGlone, strategis komoditas senior Bloomberg, sebagai “kesalahpahaman fundamental.”
Prediksi bearish para analis didorong oleh ketidakpastian makroekonomi, kerugian yang belum direalisasi di kalangan pemegang jangka pendek, dan kemungkinan sentimen risk-off yang berkepanjangan pada 2026.
