ASIAWORLDVIEW – Pasca laporan Indeks Harga Konsumen (CPI) Amerika Serikat atau AS bulan November yang dirilis oleh Biro Statistik Tenaga Kerja (BLS) baru-baru ini. Pasar kripto dan Saham AS kompak menghijau.
Indeks inflasi CPI yang menjadi acuan The Fed dalam menentukan kebijakan suku bunga tersebut meningkat secara tahunan sebesar 2,7% dan 0,3% dari bulan sebelumnya. CPI inti, yang tidak mengkalkulasi harga pangan dan energi yang fluktuatif, tetap stabil di angka 3,3%.
Kenaikan inflasi CPI secara tahunan di angka 2,7% yang lebih tinggi dari bulan Oktober di 2,6% tersebut sejalan dengan ekspektasi para ekonom serta mengindikasikan perkembangan inflasi yang ada masih berada dalam jalur yang diproyeksikan.
Baca Juga: Hacker Paling Berbahaya di Dunia Maya Curi USD1 Miliar dalam Bentuk Kripto
Merespon kondisi tersebut, Fahmi Almuttaqin, Analyst Reku mengatakan inflasi inti yang stabil dapat meningkatkan kepercayaan diri investor terhadap kemampuan The Fed untuk mengelola inflasi tanpa menimbulkan perlambatan ekonomi yang signifikan.
“Namun, tanda-tanda adanya percepatan laju inflasi ke depan mungkin akan cukup diwaspadai oleh para investor mengingat belum tercapainya target inflasi The Fed di 2% dan kekhawatiran terhadap potensi dampak rencana kebijakan presiden AS terpilih untuk
menaikkan tarif impor,” jelasnya.
Meskipun pasar bereaksi positif terhadap perkembangan inflasi CPI bulan November, angka kenaikan month on month yang lebih tinggi 0,1% dibandingkan bulan Oktober dapat memicu The Fed untuk mengambil langkah antisipatif seperti dengan menahan suku bunga.
“Terlebih jika mereka mulai mempertimbangkan arah kebijakan presiden terpilih Donald Trump seperti untuk menaikan tarif impor yang dapat menjadi ancaman terhadap meningkatnya inflasi,” tambahnya.
