GAPKI: 60% Produksi untuk Ekspor, Industri Sawit Indonesia Perkuat Posisi di Pasar Global

Eddy Martono Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) dalam keterangan pers IPOC 2025, Selasa (28/10/2025).

ASIAWORLDVIEW – Indonesia memegang peran sentral sebagai produsen dan eksportir minyak sawit terbesar di dunia, menjadikannya salah satu pilar utama dalam mendukung ketahanan pangan dan energi global. Keunggulan ini didorong oleh luasnya lahan perkebunan, efisiensi produksi, serta dukungan teknologi dan kebijakan industri yang progresif.

Eddy Martono, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), menegaskan pentingnya peran strategis industri sawit dalam forum Indonesian Palm Oil Conference (IPOC) 2025. Ia menyampaikan bahwa industri kelapa sawit Indonesia tetap menjadi komponen vital dalam pasar minyak nabati global, dengan sekitar 60% produksinya ditujukan untuk ekspor ke lebih dari 160 negara.

“Pentingnya roadmap industri sawit menuju visi “Golden Indonesia 2045,” yang mencakup tata kelola yang lebih baik, penguatan daya saing, dan adaptasi terhadap dinamika perdagangan global. Melalui IPOC, GAPKI berupaya menjawab isu-isu strategis dan memperkuat posisi Indonesia sebagai produsen minyak sawit terbesar dunia,” ia mengatakan dalam keterangannya, Selasa (28/10/2025).

Baca Juga: Indonesia Percepat Produksi Biodiesel dari Sawit untuk Diekspor ke Luar Negeri

Industri kelapa sawit Indonesia memainkan peran krusial dalam pasar minyak nabati global, dengan sekitar 60% dari total produksinya dialokasikan untuk ekspor ke lebih dari 160 negara. Kontribusi ini menjadikan Indonesia sebagai produsen dan eksportir minyak sawit terbesar di dunia, sekaligus pilar penting dalam ketahanan pangan dan energi global.

“Tingginya volume ekspor mencerminkan daya saing industri sawit nasional, baik dari segi efisiensi produksi, kualitas produk, maupun kapasitas logistik. Selain itu, ekspor minyak sawit memberikan dampak signifikan terhadap perekonomian Indonesia, terutama dalam hal penerimaan devisa, penciptaan lapangan kerja, dan pembangunan wilayah pedesaan, ia menambahkan.

Meskipun menghadapi tantangan seperti isu keberlanjutan dan regulasi internasional, industri ini terus beradaptasi melalui inovasi, sertifikasi, dan penguatan tata kelola agar tetap relevan dan berkelanjutan di pasar global.

Ia menyoroti tantangan dan peluang yang dihadapi sektor ini, termasuk kebijakan biofuel seperti penerapan B50 yang diharapkan mampu mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil. Selain itu, memperkuat keberlanjutan energi nasional.

Selain sebagai bahan pangan, minyak sawit juga berperan penting dalam sektor energi terbarukan melalui program biofuel seperti B30 dan B40. Dengan kontribusi yang luas dan berkelanjutan, industri kelapa sawit Indonesia menjadi elemen strategis dalam menjaga stabilitas pasokan minyak nabati dunia dan mendukung transisi energi global yang lebih ramah lingkungan.