ASIAWORLDVIEW – Sebatang cokelat bisa meninggalkan kesan rasa yang berbeda setelah meleleh di mulut. Ada sentuhan asam di akhir, jejak nutty atau cita rasa menyerupai kacang-kacangan, hingga nuansa buah tropis. Karakter itulah yang diperkenalkan Kalara Borneo melalui cokelat single origin berbahan kakao dari tiga wilayah di Kalimantan Barat:\, Kapuas Hulu, Sintang, dan Sanggau.
Bagi Yessy Octavia R. Tuani Mangasih, Kepala Produksi Kalara Borneo, dikutip Asia WOrld View, Rabu (4/11/2026), menikmati cokelat juga berarti mengenali daerah asalnya. Ia mengajak penikmatnya memperhatikan rasa yang muncul, termasuk yang tertinggal setelah cokelat dimakan.
Menurut penuturan Yessy, cokelat asal Kapuas Hulu memiliki sentuhan asam di akhir. Ia mengaitkan karakter tersebut dengan lingkungan kebun yang juga ditanami nanas. Sementara itu, kakao dari Sintang tumbuh di antara pohon karet dan, menurut pengamatannya, menghasilkan cita rasa nutty.
Cokelat asal Sanggau, yang kakaonya tumbuh berdampingan dengan durian, disebutnya memiliki karakter lebih fruity atau bernuansa buah tropis.
Baca Juga: Bukan Sekadar Comfort Food, Minuman Cokelat Bikin Tulang Kuat hingga Jantung Sehat
Untuk Kapuas Hulu, Yessy menggambarkan rasa asam yang terasa pada bagian akhir. Di kebun asalnya, kakao tumbuh bersama tanaman lain, termasuk nanas. Kesan rasa tersebut, menurutnya, membuat pengalaman menikmati cokelat tidak berhenti pada rasa manis.
Pada cokelat Sintang, Yessy menyebut adanya jejak nutty. Ia menceritakan bahwa kakao di wilayah tersebut ditanam di sela pohon karet. Karakter itu perlu diperhatikan perlahan agar dapat dikenali. Sementara pada cokelat Sanggau, Yessy menggambarkan nuansa buah.
“Kakao dari wilayah ini tumbuh di lingkungan kebun yang antara lain ditanami durian. Bagi penikmat cokelat, perbedaan itu menjadi undangan untuk mencoba dan menemukan kesan rasanya sendiri,” ia menambahkan.
Fermentasi mempengaruhi citarasa. Kakao untuk produk Kalara berasal dari kebun masyarakat. Tanamannya tumbuh bersama pohon dan tanaman lain melalui sistem agroforestri atau kebun campuran.
Menurut Yessy, kakao membutuhkan naungan. Karena itu, kebunnya dapat berisi beragam tanaman: durian, nanas, pisang, kopi, maupun karet. Ia menghubungkan praktik tersebut dengan tembawang, sistem pengelolaan kebun yang telah lama dikenal masyarakat adat. Bagi Kalara, pengembangan kakao berjalan bersama upaya menghidupkan kembali kebun masyarakat dan mempertahankan keragaman tanaman di dalamnya.
