ASIAWORLDVIEW – Harga Ethereum (ETH) berada di sekitar US$2.264 saat artikel ini ditulis, turun 1,07% dalam perdagangan harian. Pelemahan tersebut memperpanjang tren turun yang berlangsung sejak Oktober 2026, ketika ETH terkoreksi sekitar 16%.
Tekanan jual terjadi bersamaan dengan arus keluar besar dari produk ETF Ethereum di Amerika Serikat. Meski begitu, data on-chain menunjukkan jumlah yang tersimpan di bursa juga menyusut ke level terendah dalam satu dekade.
Kondisi ini memberi gambaran pasar yang beragam: tekanan permintaan dan sentimen investor masih membebani harga. Sementara persediaan ETH di bursa tercatat semakin terbatas.
Data SoSoValue menunjukkan ETF Ethereum mencatat arus keluar bersih sebesar US$1,61 miliar sepanjang Oktober 2026. Angka tersebut menjadi arus keluar bulanan terbesar sejak produk ETF Ethereum mulai diperdagangkan pada Juli 2024. ETF iShares Ethereum Trust milik BlackRock, dengan kode ETHA, menjadi kontributor terbesar setelah mengalami arus keluar sekitar US$1,45 miliar.
Di antara produk yang tercatat, hanya ETF Fidelity dan Morgan Stanley yang membukukan arus masuk bersih pada Oktober, masing-masing sekitar US$36,13 juta dan US$3,73 juta. Besarnya penarikan dana dibandingkan arus masuk menunjukkan bahwa minat investor terhadap produk investasi tersebut sedang melemah. Ketidakpastian menjelang pemilu sela Amerika Serikat turut disebut sebagai salah satu faktor yang bertepatan dengan tekanan pasar.
Baca Juga: Ethereum Paling Berpeluang Capai Kapitalisasi USD1 Triliun
Tekanan arus keluar ETF terjadi bersamaan dengan penurunan harga ETH hingga sempat berada di bawah US$2.200 untuk pertama kalinya sejak pertengahan Agustus. Ethereum kemudian kembali naik di atas level tersebut, tetapi belum sepenuhnya menghapus kekhawatiran mengenai kelanjutan tren. ETF Ethereum juga belum mencatat arus masuk sepanjang November dalam data yang dikutip.
Perkembangan ini menjadi perhatian karena arus dana ETF dapat mencerminkan perubahan minat investor terhadap aset kripto melalui produk investasi teregulasi. Namun, arus ETF bukan satu-satunya faktor yang menentukan harga: kondisi makroekonomi, sentimen risiko global, aktivitas pasar spot, serta penggunaan leverage juga dapat memengaruhi pergerakan ETH. Sebagai pembanding, ETF Bitcoin (BTC) pun mengalami arus keluar sekitar US$515 juta pada Oktober, meski nilainya lebih kecil daripada arus keluar ETF Ethereum.
Di sisi lain, data CryptoQuant memperlihatkan cadangan Ethereum di bursa turun menjadi sekitar 14,5 juta ETH pada 2 November, level terendah sejak 2016. Cadangan di Binance juga menyusut menjadi 3,08 juta ETH, titik terendah sejak akhir 2020. Secara historis, jumlah ETH di bursa tersebut telah turun dari puncak sekitar 35 juta pada 2020, atau merosot sekitar 58,6%. Sebagian pelaku pasar menilai berkurangnya saldo di bursa dapat mengurangi pasokan yang siap dijual dalam waktu dekat.
Namun, penurunan cadangan tidak otomatis menjadi sinyal bahwa harga akan naik. Dampaknya tetap bergantung pada permintaan: jika jumlah pembeli tidak bertambah, pasokan bursa yang lebih rendah belum tentu cukup untuk mendorong pemulihan harga.
Analis Pelinay menilai cadangan ETH yang rendah belum dapat dianggap sebagai katalis bullish yang kuat ketika harga masih lemah dan permintaan belum menunjukkan penguatan. Menurutnya, belum terlihat tanda pasar yang cukup untuk memastikan terjadinya pergerakan naik. Ia juga menyoroti proses pengurangan leverage setelah penurunan harga sebelumnya memicu likuidasi posisi long.
Sementara itu, jumlah posisi short dinilai belum cukup besar untuk memperkuat kemungkinan terjadinya short squeeze, yakni kenaikan harga yang dipicu penutupan posisi bearish secara serentak. Dengan demikian, meskipun pasokan ETH di bursa menurun, arah pasar masih akan sangat dipengaruhi oleh masuknya permintaan baru dan perubahan posisi investor.
Sentimen pasar turut melemah, tercermin dari indeks Crypto Fear and Greed yang turun ke angka 26 atau berada dalam kategori “Fear”. Nilai tersebut menjadi yang terendah sejak awal Agustus. Dalam situasi momentum yang melemah, perhatian pelaku pasar tertuju pada level teknikal penting. Analis Trozan menyebut ETH masih berupaya mempertahankan area dukungan US$2.214, tetapi pergerakannya tetap berada dalam pola descending channel pada grafik empat jam. Jika harga ditutup di bawah US$2.214, ETH berisiko menguji level berikutnya di sekitar US$2.175. Sebaliknya, apabila mampu bertahan dan memantul dari area dukungan tersebut, harga berpeluang bergerak menuju kisaran US$2.340 hingga US$2.388.
