Bitcoin Anjlok ke Bawah US$77.00, Pasar Waspadai Isu Keamanan dan Suku Bunga

Bitcoin

ASIAWORLDVIEW – Bitcoin berada di kisaran sekitar USD77.000 pada Jumat (30/10/2026), mengalami penurunan tajam dalam 24 jam terakhir. Kondisi ini dipicu oleh kombinasi kekhawatiran keamanan di bursa besar dan ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter yang ketat.

Bitcoin sempat anjlok di bawah USD77.000 pada hari tersebut, dengan penurunan harian antara 5% hingga 5,8%. Kondisi tersebut memperpanjang tren pelemahan sejak akhir Oktober.

Data dari beberapa platform perdagangan menunjukkan bahwa harga Bitcoin turun di bawah level psikologis $80.000, bahkan sempat menyentuh titik terendah di sekitar US$76.400 hingga USD$77.000. Penurunan ini bukan hanya koreksi teknis semata, melainkan respons pasar terhadap serangkaian faktor negatif yang tumpang tindih.

Pemicu langsung dari aksi jual ini adalah kekhawatiran pasar terhadap keamanan aset di bursa kripto terkemuka, Binance. Tersiar kabar bahwa Binance mungkin mengalami serangan peretasan yang melibatkan dana besar, dengan perkiraan kerugian yang dilaporkan bervariasi, bahkan ada yang menyebutkan potensi mencapai miliaran dolar AS.

Baca Juga: Aturan MiCA Berlaku, Coinbase Batasi 14 Aset Kripto untuk Nasabah Eropa

Meskipun penyelidikan masih berlangsung dan tingkat kerugian sebenarnya belum dikonfirmasi secara resmi, kekhawatiran terhadap keamanan aset di bursa terpusat (CEX) langsung memicu kepanikan di pasar. Sebagai respons darurat, penerbit stablecoin utama seperti Tether dan Circle telah membekukan lebih dari US$2,38 miliar aset yang terkait dengan alamat yang dicurigai, guna mencegah aliran dana lebih lanjut. Tindakan ini, meskipun membantu dalam pelacakan, justru memperburuk sentimen pasar terhadap likuiditas dan keamanan aset kripto.

Selain berita keamanan, lingkungan makroekonomi juga memberikan tekanan berat pada Bitcoin. Pasar secara luas memperkirakan bahwa Federal Reserve (The Fed) mungkin akan menaikkan suku bunga lagi pada Desember 2026. Ekspektasi ini berasal dari kekhawatiran bahwa harga minyak internasional yang tetap tinggi dapat mendorong inflasi kembali naik, terutama di tengah ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang berpotensi memburuk. Dalam lingkungan ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi, aset berisiko seperti Bitcoin menghadapi tekanan penilaian yang lebih besar, karena imbal hasil aset bebas risiko meningkat, sehingga mengurangi daya tarik relatif aset kripto.

Analis menunjukkan bahwa hingga akhir tahun 2026, harga Bitcoin akan sangat bergantung pada arah kebijakan suku bunga The Fed, dan diperkirakan akan tetap dalam kondisi tertekan. Dari perspektif data on-chain, rata-rata biaya pemegang jangka pendek (Short-Term Holders) berada di sekitar $76.500. Jika harga terus turun dan menembus level ini, sejumlah besar pemegang jangka pendek akan mengalami kerugian, yang berpotensi memicu likuidasi lebih lanjut dan membentuk spiral penurunan.

Meskipun suasana pasar saat ini dipenuhi sentimen bearish, beberapa analis tetap memberikan kerangka pengamatan yang rasional. Analis John Gillen menyatakan bahwa pullback ke sekitar Moving Average 50 minggu (sekitar $76.000 hingga $78.000) merupakan pengujian ulang yang normal secara teknis, bukan berarti reli telah berakhir. Namun, jika harga turun secara signifikan di bawah $75.500, kendali pasar dapat kembali ke tangan bearish, bahkan tidak menutup kemungkinan turun hingga $60.000. Untuk investor jangka panjang, strategi Dollar-Cost Averaging (DCA) masih direkomendasikan dalam menghadapi volatilitas saat ini, sambil tetap memperhatikan Bitcoin dan Ethereum sebagai aset inti.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *