Jakarta Buktikan Ketahanan Ekonomi Lewat Gelaran Konser dan Event Olahraga Internasional

Konser Ye di Jakarta berlangsung meriah pada 24 Oktober 2026.(Antara)

ASIAWORLDVIEW – Gubernur Jakarta Pramono Anung menegaskan bahwa rangkaian konser internasional dan event olahraga besar yang berlangsung di ibu kota menjadi bukti ketahanan makroekonomi Jakarta di tengah tekanan ekonomi global. Berbicara di Jakarta, Minggu (25/10/2026), Ia menunjuk lonjakan gelaran hiburan dan atletik berskala besar sebagai cerminan vitalitas finansial dan daya tarik kota.

“Hal yang saya senang adalah, dari perspektif makroekonomi, Jakarta dalam kondisi baik—bahkan ketika seluruh dunia menghadapi tekanan signifikan,” kata Pramono kepada wartawan.

Ia melihat pergeseran struktur ekonomi Jakarta yang semakin bergantung pada sektor jasa, hiburan, dan pariwisata sebagai penggerak pertumbuhan.

Pramono menyoroti beberapa event unggulan yang baru-baru ini menjadi jangkar kalender Jakarta, termasuk Jakarta Running Festival (JRF) yang digelar pada 24–25 Oktober dan menarik antusiasme luar biasa dari peserta domestik maupun internasional. Gubernur juga menunjuk konser “Ye Live in Jakarta 2026” oleh rapper global Kanye West yang berhasil menarik sekitar 60.000 penonton, termasuk sekitar 30.000 wisatawan asing.

“Tadi malam ada konser ‘Ye’. Sekitar 60.000 orang hadir, 30.000 di antaranya adalah warga asing. Sesuatu seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya,” ujarnya.

Baca Juga; Jakarta Bakal Punya Myeongdong Versi Indonesia, Pasar Baru Jadi Destinasi Kuliner 24 Jam

Kehadiran 30.000 wisatawan asing dalam satu malam bukan hanya soal angka kunjungan. Ini berarti belanja akomodasi, transportasi, kuliner, dan oleh-oleh yang mengalir ke ekonomi lokal—multiplier effect yang jauh lebih besar daripada sekadar tiket konser.

Selain itu, Pramono mencatat bahwa konser artis seperti The Weeknd dan festival musik Pestapora telah berkontribusi signifikan terhadap ekonomi lokal. Event Pestapora di Kemayoran saja menghasilkan perputaran transaksi ekonomi melebihi Rp250 miliar (sekitar US$13,8 juta). Angka ini menunjukkan bahwa sektor event bukan lagi pelengkap, melainkan bagian dari mesin pertumbuhan ekonomi Jakarta.

Festival adalah bentuk ekspor jasa yang tidak memerlukan pengiriman barang fisik—nilai ekonominya tercipta dari pengalaman, atmosfer, dan keterlibatan audiens. Jika dikelola dengan baik, sektor ini dapat menjadi sumber devisa yang stabil sekaligus memperkuat citra Jakarta sebagai kota global.

Optimisme Pramono didukung oleh data terbaru yang menunjukkan pertumbuhan ekonomi Jakarta mencapai 5,52 persen, melampaui laju pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,29 persen. Capaian ini membuktikan bahwa ekonomi Jakarta tetap mampu tumbuh kuat meskipun menghadapi tekanan geopolitik dan ketidakpastian ekonomi global.

“Dengan ini, dan sejujurnya, meskipun ada tekanan ekonomi signifikan yang saat ini dihadapi pemerintah Jakarta, kami mengejar terobosan untuk terus mengembangkan kota,” tambah Gubernur Pramono Anung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *