ASIAWORLDVIEW – Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid menegaskan pentingnya pembatasan akses anak ke platform digital sebagai langkah perlindungan dari berbagai ancaman kejahatan di ruang digital. Ia menyoroti bahwa ruang digital menyimpan banyak risiko bagi anak-anak karena sifatnya yang sangat bebas.
“Banyak sekali risiko-risiko yang dihadapi anak-anak ketika ada di ranah digital yang memang sangat bebas,” kata Menkomdigi Meutya Hafid.
Menurutnya, sesuai arahan Presiden, pemerintah mengatur penundaan akses anak ke ekosistem digital yang berisiko tinggi. Kebijakan ini tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak atau PP TUNAS, yang mencakup pembatasan akses anak berusia hingga 16 tahun ke platform digital berisiko tinggi.
“Peraturan tersebut disusun dengan mempertimbangkan berbagai risiko yang dihadapi anak ketika mengakses platform digital, termasuk kecanduan, interaksi dengan orang tidak dikenal, paparan konten berbahaya, eksploitasi komersial, serta gangguan kesehatan dan keamanan anak,” ia menambahkan.
Ia menyoroti bahwa platform media sosial dan game dirancang untuk membuat pengguna terus-menerus menggunakannya. Alhasil anak sulit mengendalikan penggunaan perangkat digital.
Baca Juga: Pemerintah Tegaskan Meta Harus Aktif Lindungi Anak di Platform Online
“Banyak anak-anak yang dengan desain dari produk media sosial, gim, dan lain-lain itu memang sengaja dibuat kecanduan, sehingga ketika ditarik itu emosional. Dilarang itu bisa marah sama orang tuanya, bahkan ada yang sampai melukai orang tuanya,” jelasnya.
Selain itu, platform digital dengan fitur komunikasi yang memungkinkan anak berinteraksi dengan orang tidak dikenal dapat membuka peluang terjadinya perundungan, penipuan, dan eksploitasi seksual. Aktivitas di ruang digital juga menghadirkan risiko penyalahgunaan data pribadi serta masalah kesehatan fisik dan mental bagi anak.
Orangtua memiliki peran penting untuk memahami risiko-risiko yang bisa dihadapi anak di ruang digital. Selain itu, mendampingi dan memantau aktivitas anak di dunia maya. Menurutnya, orang tua juga perlu mendorong anak untuk melakukan lebih banyak aktivitas di luar layar, termasuk kegiatan olahraga.
“Kita yakini bahwa pendidikan olahraga itu penting, anak-anak yang bergerak itu penting. Bukan tidak ada manfaatnya, tetapi tidak optimal jika anak-anak hanya pintar otaknya, tapi badannya tidak menunjang,” pungkasnya.
