ASIAWORLDVIEW – Rupiah melemah terhadap dolar AS pada Senin (22/9/2025), memperpanjang kerugian sepanjang tahun ini. Kondisi ini juga membuat kekhawatiran fiskal dan penguatan dolar AS yang menambah tekanan pada mata uang Indonesia.
Rupiah ditutup di level Rp 16.610,5, turun 0,06 persen dari sesi sebelumnya. Mata uang ini telah melemah 3 persen sepanjang tahun ini, berfluktuasi di dekat level terendah dalam rentang 52 minggu sebesar 15.065 hingga 17.224.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali melemah pada Senin, 22 September 2025, memperpanjang tren penurunan yang telah berlangsung sepanjang tahun ini. Pelemahan tersebut dipicu oleh kombinasi faktor eksternal dan domestik, termasuk kekhawatiran fiskal yang meningkat serta penguatan dolar AS secara global.
Baca Juga: Rupiah Melemah ke Rp16.435: Inflasi Mengancam, Investasi Tertekan
Sentimen pasar tertekan oleh kebijakan moneter agresif dari Federal Reserve, yang mendorong kenaikan imbal hasil obligasi AS dan memperkuat daya tarik dolar sebagai aset aman. Di sisi lain, ketidakpastian fiskal dalam negeri, seperti potensi pelebaran defisit dan tekanan terhadap anggaran negara, turut memperburuk persepsi investor terhadap stabilitas ekonomi Indonesia.
Akibatnya, aliran modal asing cenderung keluar dari pasar domestik, menambah tekanan pada rupiah dan memperlemah daya beli serta stabilitas harga di dalam negeri.
Pasar juga menyesuaikan diri dengan proyeksi defisit yang lebih tinggi dalam anggaran 2026, dengan defisit fiskal kini diperkirakan mencapai Rp 689,1 triliun, atau 2,68 persen dari PDB, dibandingkan dengan draf sebelumnya sebesar Rp 638,8 triliun, atau 2,48 persen dari PDB.
Secara global, dolar menguat setelah Federal Reserve menunjukkan sikap yang lebih hawkish dalam pertemuan terbarunya, yang menekan mata uang negara berkembang.
Lukman memperkirakan BI akan terus melakukan “intervensi tiga arah” untuk membatasi volatilitas, dengan perkiraan rupiah akan diperdagangkan antara 16.500 dan 16.650 per dolar dalam jangka pendek.
