Dialog Antarbudaya Indonesia–Jepang dalam Seni Kontemporer, Guratan Kuas Popomangun × Low Moromi

Pameran duo antara Popomangun dari Indonesia dan Low Moromi dari Jepang menghadirkan dialog visual antara dua pendekatan artistik yang unik

ASIAWORLDVIEW – Pameran duo antara Popomangun dari Indonesia dan Low Moromi dari Jepang merupakan sebuah kolaborasi lintas budaya yang unik. Menghadirkan dialog visual antara dua pendekatan artistik berbeda, dengan ciri khas masing-masing.

Salah satu bentuk kolaborasi paling menonjol adalah penciptaan karya bersama yang menggabungkan elemen-elemen khas dari masing-masing budaya

Popomangun dikenal dengan gaya ekspresif dan penuh warna yang sering mengeksplorasi isu sosial dan identitas lokal melalui medium campuran dan karakter-karakter imajinatif. Menghadirkan motif tenun, ukiran, dan guratan menyerupai bahasa purba yang lahir dari ritual dan tubuh.

“Saat membuat karya ini, aku memanfaatkan studio pribadi sebagai ruang eksplorasi. Di sana, aku bereksperimen dengan berbagai medium, mulai dari kanvas hingga merchandise dan art print hingga akhirnya muncul inspirasinya,” ia mengatakan saat berbincang dengan Asiaworldview.com.

“Inspirasi ini datang dari koneksi yang cepat, waktu tidur yang cukup, dan jaringan kreatif yang telah ia bangun selama ini,” ia menambahkan.

Sementara itu, Low Moromi membawa nuansa kontemplatif khas Jepang, dengan karya-karya yang menyoroti keseimbangan, kesunyian, dan estetika minimalis. salah satunya, bentuk awan sebagai simbol waktu dan ruang, terinspirasi dari konsep Jepang Yu-un.

Dalam pameran ini, keduanya menyatukan perspektif mereka untuk menciptakan ruang interaktif yang mengajak pengunjung merenungkan perbedaan dan kesamaan dalam pengalaman manusia, budaya, dan ekspresi visual.

Baca Juga: The Blueprint, Menenun Imajinasi dalam Garis dan Ornamen

Melalui instalasi, lukisan, dan karya multimedia, pameran ini tidak hanya menjadi ajang pertukaran kreatif, tetapi juga simbol dari jembatan artistik antara Asia Tenggara dan Timur Asia.

Karya mereka tidak hanya menyatukan dua gaya visual yang berbeda, tetapi juga membangun dialog antara lanskap batin dan memori leluhur, antara keheningan dan ritme, serta antara tubuh dan bumi.

Dalam total 21 karya yang ditampilkan, satu di antaranya merupakan hasil kolaborasi langsung yang mencerminkan ritme alam dan spiritualitas lintas budaya.

Karya seni tersebut menyentuh aspek batin dan spiritual manusia. Mereka terhubung bukan karena kesamaan bentuk, melainkan karena kesamaan rasa dan ritme jiwa.

Pameran ini berlangsung di LQID Creative Space, ruang seni publik portabel pertama di Indonesia, yang menjadi wadah ideal untuk menyatukan dua dunia artistik dalam satu napas yang harmonis