ASIAWORLDVIEW – Jagat hiburan Tanah Air kembali dihebohkan oleh kabar yang langsung membuat para penggemar kisah Cinta dan Rangga baper. Setelah sekuel terakhirnya dirilis pada 2016, semesta “Ada Apa dengan Cinta?” ternyata belum benar-benar berhenti berputar. Kali ini, Royco menghadirkan kelanjutan perjalanan ikonik tersebut melalui sebuah film pendek berjudul “Bahasa Cinta yang Beda”, yang kembali diperankan oleh Dian Sastrowardoyo sebagai Cinta dan Sissy Prescillia, serta disutradarai oleh Teddy Soeria Atmadja.
Bagi Dian Sastrowardoyo, kembali memerankan Cinta adalah pengalaman yang istimewa. Menurutnya, perannya itu seolah telah melekat di dalam dirinya.
“AADC selalu punya tempat spesial di hati aku, jadi excited banget bisa mendapat kesempatan untuk melanjutkan chapter hubungan Cinta dan Rangga. Kali ini kita tidak lagi melihat mereka dalam fase mencari atau menemukan cinta, tetapi setelah bertahun-tahun menjalani kehidupan bersama—ada rutinitas, kesibukan, dan jarak yang membuat koneksi antara mereka terasa semakin datar,” ia menjelaskan.
“Tanpa banyak spoiler, menurutku ceritanya sangat relatable untuk semua hubungan, dan aku harap film ini bisa mengingatkan kita supaya tidak terpaku pada bagaimana cinta ‘seharusnya’ ditunjukkan, justru kita harus terus menemukan bahasa cinta yang selama ini ada, tapi sering kali tidak kita sadari,” tambahnya.
Baca Juga: Tak Hanya Ungkapan, Omelette Pun Jadi Simbol Bahasa Cinta yang Beda
Film ini bukan sekadar proyek komersial biasa, ini adalah jembatan nostalgia yang menghubungkan penonton lama dengan realitas hubungan masa kini. Peluncuran perdananya digelar dalam gala premiere di XXI Epicentrum Jakarta, menghadirkan atmosfer layaknya perilisan film layar lebar, lengkap dengan sorotan media dan antusiasme para penggemar yang tumbuh besar bersama puisi-puisi Cinta dan Rangga.
“Proyek ini bukan hanya reunion para pemain, tetapi juga refleksi atas cara cinta bertahan di tengah kehidupan yang semakin sibuk dan penuh distraksi,” jelasnya sambil tersenyum.
Dalam film pendek ini, Royco mengajak masyarakat melihat bahwa seiring waktu, cinta juga dapat diungkapkan dengan cara yang berbeda. Jika selama ini Cinta dan Rangga begitu lekat dengan puisi sebagai medium untuk menyampaikan perasaan, kini mereka dihadapkan pada fase hubungan yang lebih dewasa: rutinitas, kesibukan, dan jarak yang perlahan membuat koneksi terasa datar. Di titik inilah “Bahasa Cinta yang Beda” menawarkan perspektif segar.
Cinta tidak lagi melulu soal kata-kata puitis atau gestur besar, melainkan tentang perhatian kecil yang dilakukan secara konsisten—termasuk lewat masakan sederhana seperti omelette. Omelette yang lezat tidak membutuhkan resep kompleks, melainkan sentuhan kecil yang membuat rasanya lebih istimewa.
Kehadiran Dian Sastrowardoyo dan Sissy Prescillia menjadi magnet tersendiri, sementara sentuhan Teddy Soeria Atmadja sebagai sutradara memberi jaminan kualitas visual dan penceritaan. Premiere di XXI Epicentrum menjadi momen yang seolah mengembalikan penonton ke era awal 2000-an, ketika Cinta dan Rangga pertama kali merebut hati publik. Namun, kali ini bukan lagi tentang surat dan puisi, melainkan tentang bagaimana cinta dirawat dalam keseharian—lewat sepiring omelette, perhatian kecil, dan konsistensi yang sering luput dari perhatian.
