ASIAWORLDVIEW – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat tipis ke zona hijau hari ini, Selasa (9/6/2026), setelah sebelumnya ditutup melemah. Pada sesi pembukaan, IHSG bergerak di kisaran 5.344,68–5.377,62, mencatat kenaikan sekitar 0,05–0,59% dibanding penutupan sebelumnya di level 5.342.
Indeks LQ45 juga ikut menguat ke 528,30–532,51, menunjukkan adanya dorongan positif di saham-saham unggulan. Rentang pergerakan awal IHSG cukup lebar, dengan posisi tertinggi di 5.428,72 dan terendah di 5.344,68.
Sementara nilai transaksi mencapai Rp 1,9 triliun dengan volume perdagangan sekitar 4 miliar saham. Dari total saham yang diperdagangkan, 275 saham menguat, 204 melemah, dan 207 stagnan, menandakan pasar masih dalam kondisi campuran meski ada kecenderungan positif.
Penguatan IHSG hari ini didorong oleh sejumlah faktor eksternal dan domestik. Dari sisi global, optimisme atas negosiasi damai antara Iran dan Israel memberi ruang bagi pasar ekuitas untuk rebound. Selain itu, harga minyak mentah dunia turun tipis dengan WTI di US$ 90,88/barel dan Brent di USD 93,92/barel, sehingga mengurangi tekanan inflasi energi.
Baca Juga: IHSG Tertekan, Investor Asing Jual Rp544 Miliar
Namun, data tenaga kerja AS yang masih kuat menimbulkan ekspektasi bahwa Federal Reserve akan menunda pemangkasan suku bunga hingga 2027, yang berpotensi menekan pasar saham emerging market termasuk Indonesia. Dari dalam negeri, cadangan devisa Indonesia turun ke USD144,9 miliar pada Mei 2026, memicu intervensi Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas rupiah, sehingga menjadi faktor yang membatasi penguatan IHSG.
Dari sisi sektoral, infrastruktur menjadi satu-satunya sektor yang menguat, sementara sektor transportasi (-1,11%) dan basic materials (-1,39%) masih tertekan.
Saham perbankan besar mulai menunjukkan pemulihan, dengan BBCA naik 1,24% ke Rp 4.910 dan BBNI naik 1,99% ke Rp 3.070, meski BMRI (-0,54%) dan BBRI (-0,39%) masih melemah. Hal ini menunjukkan adanya rotasi sektor di mana investor mulai masuk kembali ke saham-saham unggulan, khususnya perbankan dan infrastruktur, yang dianggap defensif di tengah volatilitas pasar.
Secara teknikal, IHSG diperkirakan akan tetap fluktuatif dengan potensi koreksi ke area 5.184–5.282. Level support berada di 5.191–5.261, sementara resistance di 5.462–5.594, sehingga ruang pergerakan masih cukup lebar. Analis menyarankan strategi buy on weakness pada saham-saham unggulan seperti ASII, BULL, JPFA, dan NICL, serta fokus pada dividend investing untuk menjaga portofolio tetap defensif menghadapi volatilitas.
Secara keseluruhan, IHSG hari ini mencerminkan kombinasi antara sentimen positif dari global dan tantangan domestik yang masih membayangi. Meski ada peluang penguatan, risiko koreksi tetap tinggi sehingga investor perlu berhati-hati dan memanfaatkan momentum akumulasi di saham-saham berkualitas.
