Susu Kental Manis Bukan Susu: Bahaya Konsumsi Berlebihan

Susu Kental Manis atau SKM

ASIAWORLDVIEW – Masih banyak masyarakat di Indonesia yang beranggapan bahwa Susu Kental Manis (SKM) adalah susu, padahal sebenarnya bukan. SKM merupakan produk olahan yang dibuat dari susu sapi melalui proses pengurangan kadar air (evaporasi) lalu ditambahkan gula dalam jumlah tinggi sebagai pemanis sekaligus pengawet.

Kandungan protein dan nutrisi di dalam SKM jauh lebih rendah dibandingkan susu segar atau susu bubuk, sementara kadar gula dan kalori justru sangat tinggi. Karena itu, SKM lebih tepat digunakan sebagai topping atau pelengkap makanan dan minuman, bukan sebagai sumber utama gizi harian.

Kesalahpahaman ini perlu diluruskan agar masyarakat tidak menjadikan SKM sebagai pengganti susu, terutama untuk anak-anak yang membutuhkan asupan nutrisi lengkap untuk tumbuh kembangnya. terlalu banyak konsumsi SKM berbahaya untuk kesehatan.

Baca Juga: Susu Kaya Vitamin D dan Kalsium, Kunci Pertumbuhan Optimal Generasi Muda

Susu kental manis untuk topping makanan penutup.
Susu kental manis untuk topping makanan penutup atau kue.(freepik)

Mengutip Jurnal Kesehatan Volume 6 Nomor 2 Tahun 2022, satu porsi susu kental manis dapat mengandung lebih dari 40 persen gula. Anak-anak yang mengonsumsinya secara teratur berisiko tinggi mengalami asupan gula berlebihan. Ini merupakan salah satu bahaya utama susu kental manis bagi anak-anak, karena dapat menyebabkan obesitas, kerusakan gigi, dan masalah metabolik sejak usia dini.

Konsumsi gula berlebihan dari susu kental manis memberikan beban tambahan pada pankreas untuk memproduksi insulin. Seiring waktu, hal ini dapat menyebabkan gangguan regulasi gula darah, dilansir dari ulasan kesehatan Universitas Airlangga.

Kandungan gula tinggi dan lemak olahan dalam susu kental manis dapat mengganggu keseimbangan bakteri usus. Ini adalah salah satu bahaya susu kental manis yang sering diabaikan, tetapi dapat secara signifikan memengaruhi aktivitas harian.

Susu kental manis manis bersifat lengket dan cenderung menempel pada gigi. Jika tidak dibersihkan dengan benar, sisa gula menjadi tempat berkembang biak bakteri penyebab lubang gigi.

Konsumsi rutin dalam jumlah besar dapat meningkatkan risiko obesitas, diabetes tipe 2, dan kerusakan gigi karena gula yang menempel pada enamel. Selain itu, kadar gula berlebih memberi beban tambahan pada pankreas untuk memproduksi insulin, sehingga berpotensi mengganggu regulasi gula darah dalam jangka panjang.