ASIAWORLDVIEW – Harga Bitcoin mengalami penurunan tajam, Senin (23/2/2026), sebesar 5% hingga menyentuh level terendah di USD64.350. Kondisi ini mencerminkan tekanan jual yang kuat di tengah sentimen pasar yang melemah, di mana investor cenderung melakukan aksi ambil untung setelah lonjakan harga sebelumnya.
Penurunan tersebut juga memperlihatkan betapa volatilitas aset kripto masih tinggi, sehingga pergerakan harga dapat berubah drastis dalam waktu singkat
Bagi pelaku pasar, momen ini menjadi pengingat bahwa investasi kripto membutuhkan kewaspadaan ekstra serta strategi manajemen risiko yang matang untuk menghadapi fluktuasi yang tidak terduga.
Analisis pasar menunjukkan bahwa koreksi ini bukan semata karena fundamental, melainkan akibat struktur mikro perdagangan yang rapuh. Lonjakan transaksi jual besar-besaran dari investor besar (whales) menciptakan tekanan likuiditas dan memicu efek domino di bursa kripto.
Baca Juga: Bitcoin dan Emas Terus Merosot, USD Menguat Jelang Kesepakatan Nuklir AS-Iran
Kepanikan investor ritel yang masih terjebak dalam ilusi “supercycle” memperparah penurunan harga Bitcoin karena banyak dari mereka yang bereaksi secara emosional ketika harga mulai jatuh. Alih-alih menahan aset dan menunggu stabilisasi pasar, mereka justru buru-buru melepas kepemilikan kripto untuk menghindari kerugian lebih lanjut.
Aksi jual massal ini menciptakan efek domino. Akhirnya memperbesar tekanan likuiditas, dan mempercepat penurunan harga.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa ekspektasi berlebihan terhadap siklus kenaikan harga jangka panjang dapat berbalik menjadi faktor risiko, terutama ketika sentimen pasar melemah dan investor ritel kehilangan kepercayaan dalam waktu singkat.
